
dari ki-ka; Sugeng, Komariyah, Saiful, Josie, Mr. Gerald Donovan, Fanda, Luita, Supanna dan Dona
Tulisan ini saya simpulkan dari hasil workshop dua hari yakni Jum’at dan Sabtu , 20 dan 21 Februari 2009 bertempat di SF teacher institute, Sampoerna Strategic Square, Jakarta.
Saya mengucapkan terima kasih dan senang akhirnya bisa off line dengan Pak A. Sampurno dari sekolah Global Jaya, Jakarta jika selama ini cuma on line, kemudian Mr. Gerald Donovan guru dan perintis ICT di sekolah Bogor Raya, Bogor selanjutnya kekeluargaan yang sudah tercipta meski dua hari yakni dari para peserta seperti: Ibu Josie ( Philipina), Pak Saiful ( Newmont Sumbawa), Ibu Luita ( ESDM, Cepu), Ibu Fanda T ( Tunas Muda Jakarta), Pak Supanna ( Jakarta), Pak Dona ( SEAMOLEC, Pondok Cabe), Pak Sugeng Riyadi ( Bontang,kalimantan) dan saya sendiri, Komariyah (SMKN 8 Jakarta)
Berinternet sehat ….
Pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat saat ini sudah mampu mengubah perilaku kita berinteraksi dengan mudah kepada relasi,kerabat dan keluarga. Kemajuan ICT dapat dilihat dengan munculnya beragam alat yang menjanjikan banyak kemudahan dan manfaat bagi penggunanya. Khusus sebuah alat yang mengalami peningkatan jumlah produksi , pemanfaatannya dan pemakaian adalah computer. Bahkan segala bentuk dan model pun setiap tahun berganti dan beragam fungsinya sebagai bentuk jawaban tuntutan kebutuhan konsumen dengan harga yang bervariasi ada yang murah dan mahal semua tergantung sisi mana kita melihatnya. Jika beberapa tahun silam kepemilikan computer masih pada kalangan terbatas namun saat ini tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu tapi sudah merebak ke dalam ruang dan kondisi umum bahkan tidak mengenal strata usia atau geografi.
Merujuk sebuah buku yang pernah saya baca Virus Of The Mind nya Richard Brodie, mengatakan selalu ada dua sisi dalam kehidupan sebuah kemajuan teknologi atau kemutakhiran sebuah model, yakni kebaikan dan keburukan. Keduanya saling bersanding dan beriringan mengikuti arus jaman.
Konsep virus mulai marak saat orang mengenal, menggunakan dan akrab dengan computer, meski kita mendengar sebelumnya konsep virus sering diajadikan sebab untuk sebuah penyakit dalam dunia kesehatan. Dengan demikian konsep virus sudah diketahui terdapat di dunia biologi dan computer. Tapi sekarang kita akan melihat bagaimana virus hadir di dunia gagasan, budaya melalui digital/computer.
Sisi positif dunia digital bagi kehidupan tidak dapat dipungkiri terlebih lagi melalui forum diskusi di internet. Tidak ada batas dan jarak menghalangi kita saat berinteraksi on line melalui internet (digital world) , dalam kegiatan bisnis, sekolah atau akademisi. Kita juga mudah mencari informasi pengetahuan secara instant dengan mengklik situs tertentu, misalnya Google. Tapi apakah kita sudah menyadari sepenuhnya sisi buruk dari dunia digital? Apakah dunia digital sudah aman bagi kita semua khususnya anak-anak, siswa di sekolah dan remaja? Sejatinya pada masa usia anak-anak atau remaja belum mampu menyaring serbuan informasi yang muncul di dunia digital.
Pendidik dalam hal ini guru dan orang tua berperan aktif memerangi mengatasi merajalelanya virus negative yang nyata atau tersembunyi di dunia digital. Virus yang akan merasuki akal budi anak-anak dan remaja bersifat parasit, lebih daripada penyusup dan lebih daripada pengganda-diri yang beroperasi seenak perutnya. Virus negative mencakup semua itu. Mungkin selain guru dan orang tua juga sudah dikeluarkan regulasi penyeimbang informasi yang positif dan negative di dunia digital, boleh dikatakan sebagai sensor serbuan informasi literasi yang menyimpang atau cenderung seronok tidak pantas bagi anak-anak, remaja dan siswa di sekolah. Selanjutnya bagaimana upaya sederhana yang dapat kita lakukan agar anak-anak, remaja dan siswa di sekolah supaya tidak tersesat di dunia digital?
Membekali pengetahuan bagi guru dan orang tua seluk-beluk pengetahuan dunia digital, agar yang ingin disampaikan ke anak-anak, remaja atau siswa tepat sasaran. Apa yang dapat kita sampaikan kepada mereka jika kita sendiri tidak mengerti atau menyelami dunia digital, khususnya situs-situs pengetahuan ?
Informasikan situs-situs di dunia digital yang sesuai usia mereka, dan tidak sesekali melarang dengan kata jangan sambil menyebut situs yang tidak tepat buat mereka, bisa jadi akan menimbulkan penasaran bagi mereka dan akhirnya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan kita – mereka “memaksakan” guna mengakses situs tersebut.
Displinkan diri khususnya waktu penggunaan dunia digital baik di rumah atau di sekolah, mungkin membatasi pemakaian, akses internet yang hanya untuk mengerjakan atau menjawab tugas yang diberikan guru. Tidak dibenarkan mereka mengakses pada saat waktunya istirahat atau malam hari ketika semua sedang terlelap tidur.
Komunikasikan dengan santun membimbing dan mendampingi bertanya kepada mereka setiap selesai berinternet mengenai situs yang diakses, tanpa mereka merasa tersinggung dan diawasi agar merasa nyaman, sarankan juga agar bersikap protektif dari segala bentuk komunitas yang tersedia di dunia digital jika mereka aktif sebagai anggota salah satu komunitas on line di dunia digital.
Mengunci atau memblokir pada computer kita menghindari hal-hal yang buruk terjadi pada anak-anak, dengan tidak menghadirkan tampilan bullying, crime, pornografi.
Fokuskan pemakaian internet untuk mereka, mencari informasi pengetahuan, menciptakan kreatifitas dari beberapa situs yang menyediakan pembelajaran, misalnya situs ICT Edu Indonesia.
Yang terpenting, beri mereka pesan-pesan moral bahwa segala yang dilakukannya saat berhadapan dengan internet tidak seorang pun melihat interaksi yang terjadi, seperti menjiplak karya orang, membajak karya cipta ( copyright) kecuali memang diperkenankan dengan kata lain tercantum kalimat gratis. Sekalipun orang tidak melihat apa yang kita lakukan saat koneksi dengan internet, tapi kita memiliki hati nurani dan Sang Khalik yang selalu melihat apa yang kita perbuat.
Silahkan teman-teman sharing menambahkan hasil workshop, keep in touch …