
label kegiatan...
Pendidikan kejuruan sudah kita ketahui bersama berbeda dengan pola pendidikan umum, pendidikan kejuruan berorientasi kompeten dan kompetetif pada ketrampilan khusus. Menyikapi kondisi ekonomi yang sering tidak menentu stagnasinya bisa membaik atau krisis dalam sebuah negara bermuara pada kualitas tenaga kerja yang berdampak pengangguran. Tidak terjawabnya kebutuhan dunia usaha industri dan jasa akan tenaga kerja yang berkualitas menjadikan tantangan pendidikan kejuruan yang sejatinya outcomes dari SMK dituntut mampu menjawab dan mengatasi permasalahan praktik di lapangan. Permintaan agar mengefektifkan SMK dan menangani pengangguran meski persoalan pengangguran bukan tanggung jawab satu pihak saja.
Kegelisahan atas kondisi yang dihadapi dan sebagai bentuk upaya mencari format dalam mencermati pola pendidikan dual system para kepala sekolah wilayah Jakarta Selatan yang dimoderatori Dr. Sugiarto, M.Ed bertempat di ruang Serbaguna SMK Negeri 8 Jakarta Rabu, 8 April 2009 mengadakan sarasehan dengan tajuk Pengembangan SMK & Dunia Usaha- Dunia Industri (DUDI) bersama DR.Ing. Wardiman Djojonegoro (Mendikbud 1993-1998) dan Drs. Jorlin Pakpahan. Acara yang dibuka oleh H.Extriks, M.Pd dari Sudin Jakarta Selatan ini bukan akhir dari suatu tujuan perubahan untuk peningkatan mutu SMK, melainkan awal tindakan yang simultan dan kondusif nyata.
Pola dual system yang popular dengan Link and Macth memiliki label: PKL, PSG dan Prakerin – yang sangat kental label yang digunakan oleh pihak user adalah PKL. Kurangnya akrab label PSG di DUDI juga merupakan hal yang secara perlahan harus diubah. Namun semua label tersebut diharapkan tidak mengubah apalagi mengurangi substansi pokok dari dual system itu sendiri yang bermuara pada siswa SMK yang kompeten. Pola pendidikan dual system memang mutlak diterapkan di sekolah kejuruan mengingat tidak semua sikap, perilaku, di tempat kerja dapat dibentuk di sekolah, selain itu membangun pikiran dari perilaku kerja tersebut berbingkai economy value ujarnya Drs. Jorlin Pakpahan dengan memberikan contoh “ saat beliau pergi ke service mobil pada sebuah tempat bertanya kepada petugasnya berapa hari mobilnya bisa diambil, namun petugas tersebut menjawab dengan rentang waktu yang lama dalam hitungan minggu bukan hari, bayangkan berapa kerugian ekonomi yang diterima oleh mobil tersebut jika berlama-lama di bengkel jika mobil tersebut merupakan mobil yang disewakan untuk mencari income.”

Drs. Jorlin Pakpahan dan DR.Ing.Wardiman Djojonegoro
Peningkatan mutu SMK dalam menerapkan pola dual system atau Link and Macth didasarkan beberapa persyaratan, menurut DR.Ing. Wardiman Djojonegoro: gedung, alat peraga, SDM/Guru, kurikulum, testing, dan anggaran pendidikan. Sudahkah maksimal semua komponen itu? Namun yang paling utama dalam perubahan itu diawali dari internal sekolah itu sendiri bukan pihak eksternal dan pengujian mutu SMK adalah di Dunia Usaha dan Dunia Industri ujarnya DR. Ing. Wardiman Djojonegoro. Peserta sangat antusias mengikuti sarasehan ini, terbukti dari banyaknya sharing pengalaman dan cerita dalam mengelola SMK pada pelaksanan PSG mulai dari input, kurikulum, proses dan outcomes. Kegiatan yang dibatasi hanya sampai pukul satu siang ini, ditutup oleh moderator Dr. Sugiarto, M.Ed, dengan menyimpulkan hasilnya sebagai berikut: SMK harus mampu dan kreatif, ditingkatkannya kerjasama dengan DUDI, PSG harus distrukturisasi, dibentuknya forum yang menjembati SMK dengan DUDI, dan perlunya daya tampung PSG dengan pemetaan SMK sebagai pilot project.
Di sela-sela acara ramah tamah siswa-siswi Prestasi Junior Indonesia menawarkan saham student company SMK Negeri 8 Jakarta yang sangat diminati oleh para peserta.

Promosi saham student company





