
Kunjungan ke dua, melalui darat karena saya ingin tahu pelabuhan ‘Lembar’ tahun 2001. Kali ini juga atas undangan seorang rekan , yang rajin telephone saya, selama belajar di Melbourne, Australia. Alhamdullilah selalu ada kesempatan ke sana. Undangan ini khusus untuk menyaksikan pesta adat pernikahan suku Sasak di Lombok Tengah. Sampai saat ini pun suku Sasak belum berubah nampak etalase kemiskinannya ditengah – tengah gencarnya rencana pembangunan airport Intenasional dekat pantai Kute. Terima kasih kepada rekan saya ini, ( maaf ya namamu tidak saya tulis karena orang dengan mudah mengenalmu ),yang sudah mau mengantar saya melihat keindahan ‘Pusuk’ dan bahasa Sasak meski sulit menghapalnya. Serta mengantar saya ke Selaparang untuk kembali ke Jakarta.
Saya mohon maaf kepada kalian semua karena kunjungan kali ini tidak ‘mampir’ atau menemuimu atau mengabarimu meski cuma sejengkal jarak yang terpaut. Bagaimana kekuatan pikiran menutupi kenangan, wong bus rombongan kami bolak – balik melewati depan rumahnya suku ‘Balinese’ tapi saya cuma manggut – manggut aja atau pura – pura merem . Sampai hapal banget tempat dan jalan di Mataram tahun 1996 tidak beda dengan Maret 2008.
Kata orang NTB bisa dipanjangkan Nasib Tergantung Bali karena memang industry pariwisata di sana bergantung dari Bali maksudnya wisatawan ke Bali dulu, baru ke Lombok. Namun menurut saya sesungguhnya kita bisa melihat ‘Bali’ di Lombok tapi kita tidak bisa melihat Lombok di Bali. Itulah keunikannya Lombok dibanding Bali. Apa lagi ketika bermain – main di pantai Tanjung Aan dan Kute sunguh masih bening air lautnya dan pasir putihnya yang lain dengan Bali. Jauh lebih penting dari itu yang bermakna adalah atmosphere auranya menyiratkan kesucian dan kesederhanaan dapat menyejukkan hati . Namun kalau menengok komunitas suku Sasak . Saya tidak mengerti . Sederhana atau miskin suku sasak itu atau memang sebagai cagar budaya suku Sasak dibentuk demikian apa adanya. Belum lagi menurut cerita teman , disana ada musim menikah tapi ada juga musim perceraian . entah tergantung apa kedua musim itu terjadi? Tragis lagi bangsa TKI/TKW di Luar negeri banyak dari Lombok . Belum lagi pengangguran terselubung yang ada di sana . Mungkin Lombok tidak bisa berlari cepat pariwisatanya karena ada tangan – tangan religi yang tidak boleh lepas, ujar seorang teman. Kita belum bisa mengelola potensi sumber daya alam yang bernilai tinggi di sana. Semoga Lombok tetap menarik dan mampu mengangkat ekonomi penduduk asli di sana sepanjang masa meski akan masuk investor asng yang akan membuka pintu gerbang baru yakni airport internasional di daerah Kute, Lombok Tengah. Terima kasih Lombok potretmu indah luar dalam.


