Potret Economic Life Style Lombok

Pantai Kuta di Lombok

Pantai Kuta di Lombok

p1010162

 

Perempuan suku Sasak di desa Sukarare sedang menenun

Perempuan suku Sasak di desa Sukarare sedang menenun

Usaha Gerabah di Banyumulek
Usaha Gerabah di Banyumulek

 

Akhir pekan libur panjang, saya berkunjung ke Lombok Nusa Tenggara Barat ( NTB) meski singkat tapi menyenangkan. Bagi sayaLombok  belum banyak berubah auranya dan spirit di sana.  Kunjungan ke Lombok yang ke tiga kali ini, sebenarnya cuma untuk mau melihat bentuk asli mutiara dari air laut lain dari itu tidak ada. Jika diurut kebelakang sebagai catatan saja, tahun 1996 kali pertama saya ke Lombok saat itu masih terbang dengan “Sempati” tujuan kunjungan kali itu atas undangan seorang rekan ‘Balinese’ untuk menyaksikan upacara adat potong gigi salah satu keluarganya. Dan saat itu pun cukup semalam dua hari. Mungkin kunjungan yang surprise buat saya karena sambutan mereka terhadap diri saya antusias banget pake diupacaraiin segala diri saya di sana meski tidak sampai ‘melepas ‘ keyakinan yang saya anut. Jika mengingatnya saya cuma tersenyum geli , unik kehidupan suku ‘Balinese’ apa saja dan sisi mana pun tidak terlepas dari upacara ‘ sesaji’  Terima kasih buat keluarga Mas Nyoman , saat itu dokter PTT puskesmas di Waingapu, Sumba Timur  atas kebaikanmu . 

 

  

 

 

 

Kunjungan ke dua, melalui darat karena saya ingin tahu pelabuhan ‘Lembar’ tahun 2001. Kali ini  juga atas undangan seorang rekan , yang rajin telephone saya,  selama belajar di Melbourne, Australia. Alhamdullilah selalu ada kesempatan ke sana. Undangan ini khusus untuk menyaksikan pesta adat pernikahan  suku Sasak di Lombok Tengah. Sampai saat ini pun suku Sasak belum berubah nampak etalase kemiskinannya ditengah – tengah gencarnya rencana pembangunan airport Intenasional dekat pantai Kute. Terima kasih kepada rekan saya ini,  ( maaf ya namamu tidak saya tulis  karena  orang dengan mudah mengenalmu ),yang sudah mau mengantar saya melihat keindahan ‘Pusuk’ dan bahasa Sasak meski sulit menghapalnya. Serta mengantar saya ke Selaparang  untuk kembali ke Jakarta.

Saya mohon maaf kepada kalian semua karena kunjungan kali ini tidak ‘mampir’ atau menemuimu atau mengabarimu   meski cuma sejengkal jarak  yang terpaut. Bagaimana kekuatan pikiran menutupi kenangan, wong bus rombongan kami bolak – balik melewati depan rumahnya suku ‘Balinese’ tapi saya cuma manggut – manggut aja atau pura – pura merem . Sampai hapal banget tempat dan jalan di Mataram tahun 1996 tidak beda dengan Maret 2008.

Kata orang NTB bisa dipanjangkan Nasib Tergantung Bali  karena memang industry pariwisata di sana bergantung dari Bali maksudnya wisatawan ke Bali dulu, baru ke Lombok. Namun menurut saya sesungguhnya kita bisa melihat ‘Bali’ di Lombok tapi kita tidak bisa melihat Lombok di Bali. Itulah keunikannya Lombok dibanding Bali. Apa lagi ketika bermain – main di pantai Tanjung Aan dan Kute sunguh masih bening air lautnya dan pasir putihnya yang lain dengan Bali. Jauh lebih penting dari itu yang bermakna adalah atmosphere auranya menyiratkan kesucian dan kesederhanaan dapat menyejukkan hati . Namun kalau menengok komunitas suku Sasak . Saya tidak mengerti . Sederhana atau miskin suku sasak itu atau memang sebagai cagar budaya  suku Sasak  dibentuk demikian apa adanya. Belum lagi menurut cerita teman , disana ada musim menikah tapi ada juga musim perceraian . entah tergantung apa kedua musim itu terjadi? Tragis lagi bangsa TKI/TKW di Luar negeri banyak dari Lombok . Belum lagi pengangguran terselubung yang ada di sana . Mungkin Lombok tidak bisa berlari cepat pariwisatanya karena ada tangan – tangan religi yang tidak boleh lepas, ujar seorang teman. Kita belum bisa mengelola potensi sumber daya alam yang bernilai tinggi di sana. Semoga Lombok tetap menarik dan mampu mengangkat ekonomi penduduk asli di sana sepanjang masa meski akan masuk investor asng yang akan membuka pintu gerbang baru yakni airport internasional di daerah Kute, Lombok Tengah. Terima kasih Lombok potretmu indah luar dalam.

Diterbitkan di:  on Maret 16, 2008 at 3:33 am Komentar (5)

Ilmu Berburu Kamera Digital

Ada banyak fitur yang ditawarkan oleh berbagai merk kamera digital yang terkadang membuat kita bingung . Berikut, tips bagaimana caranya agar kita tidak salah pilih untuk memilih kamera digital, yang saya peroleh dari majalah EazyPay Superstore . 

Resolusi

Sesuaikan resolusi kamera dengan kebutuhan . Untuk mengirim foto lewat e-mail, resolusi 640×480 sudah memadai . Untuk mencetak hasilnya , pilih resolusi yang lebih besar sehingga gambar tidak pecah dan buram. 

Fitur – fitur pendukung

Pastikan kamera digital memiliki tambahan, optical dan digital zoom. Jika dibutuhkan, pilih juga kamera dengan fasilitas cropping, self- timer, dan rechargeable battery. 

Integrated flash

Perhatikan apakah kamera digital anda memiliki lampu kilat yang terintegrasi, otomatis, dengan night mode, dan dapat mengurangi efek mata merah.

 LCD

Pilih LCD dengan resolusi yang cukup besar untuk warna lebih natural . Pastikan juga ukuran layar tidak terlalu kecil untuk gambar lebih optimal. 

Koneksi

Pilihlah kamera yang dapat terhubung dengan perangkat digital lainnya seperti TV, printer, PC, atau MAC. Perhatikan juga ketersediaan kabel USB agar anda dapat emncetak gambar dari perangkat lain. 

Kalkulasi harga

Kalkulasikan harga perangkat pendukung lainnya seperti baterai isi ulang dan adapter AC.

 Waktu operasi

Pilih kamera digital yang tidak butuh waktu lama setelah pengambilan gambar . 

Harga dan garansi

Lakukan riset  dengan membandingkan mengenai harga sebelum membeli. Jangan lupa untuk memperhatikan garansi dari produk tersebut, dan bukan cuma garansi toko saja.

 Ok, apakah kamera digital anda sudah terpenuhi semua criteria tersebut ?Yo, kita belajar memotret  dari peristiwa yang kita saksikan atau kita alami. Agar hidup lebih bermakana. Selamat berburu  kamera digital …!

Diterbitkan di:  on Maret 2, 2008 at 10:46 am Tinggalkan sebuah Komentar